Biomarker  Fibrosis Paru Paska Pneumonia COVID-19

Saluran napas dan paru merupakan  target organ yang sering menjadi sasaran infeksi SARS-CoV2 pada manusia. Fibrosis paru merupakan salah satu sequele infeksi SARS-CoV2 yang sering dijumpai dan menimbulkan masalah kesehatan karena menimbulkan disfungsi organ. Frekuensi fibrosis paru pada pneumoni COVID-19 cukup besar bervariasi antara 33.0% sampai  83,3%.Mekanisme kejadian fibrosis paru pasca COVID-19 belum diketahui secara pasti.

Injury oleh infeksi SARS-CoV2 akan diikuti oleh proses perbaikan untuk mempertahankan karakteristik struktur organ. Aktivasi efek fibrogenik pada organ tergantung kapasitas regeneratip jaringan dan mekanisme regulasi yang menekan aktivasi menyandi profibrotik yang berlebihan. Pada jaringan paru,disregulasi respons fibrogenik dapat mengganggu perbaikan jaringan sehingga  menimbulkan disfungsi organ paru

Fibrosis paru pada penderita pneumoni COVID-19 yang dirawat di Rumah Sakit

Di Indonesia kasus infeksi SARS-CoV2 dilaporkan mulai Maret 2020 dan kasus menyebar secara cepat dengan varian delta yang menimbulkan manifestasi klinis berat. Sequele COVID-19 menimbulkan rasa takut bagi penyintas. Fibrosis paru merupakan sequele yang menimbulkan masalah kesehatan paru yang serius karena menimbulkan gangguan fungsi paru sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari bahkan sampai invalid. Fungsi paru yang terganggu adalah  inspirasi yang tidak adequate karena paru menjadi kaku juga terjadi gangguan proses difusi (pertukaran gas). Evaluasi fungsi paru akan ditemukan gangguan restriksi pada pemeriksaan spirometri.

Fibrosis paru umumnya dideteksi dengan   pemeriksaan radiologi seperti pemeriksaan X-ray toraks atau CT scan toraks yang memberikan hasil lebih detail atau pemeriksaan post mortum dengan pemeriksan histopatologi. Pada foto toraks fibrosis akan tampak sebagai gambaran opasitas berupa garis predominan di perifer sedang pada CT scan toraks fibrosis paru ditandai oleh gambaran :1) Honeycombing 2) Traction bronchiectasis atau bronchiolectasis, 3) Bronchial wall thickening 4) Parenchymal bands dan GGO. CT scan toraks selain memberikan gambaran yang lebih detail juga bisa menggambarkan keparahan sequele paru dengan melakukan skoring. Salah satu  sistem skor membagi fibrosis paru menjadi 3 kelompok yaitu ringan bila skor 1-7, sedang 8-13, berat >14 dengan skor maksimal 25.

Fibrosis paru umumnya dijumpai pada penderita pneumoni COVID-19 berat. Pada infeksi virus,stimulasi growth factor seperti FGF,EGF,TGF-β(transforming growth factor) merupakan salah satu mekanisme aktivasi jalur  profibrotik dan bersama respons inflamasi merupakan beberapa mekanisme fibrogenik yang sudah dikenal. Pada SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) yang disebabkan oleh SARS-CoV, TGF-β berperan pada sequele fibrosis paru pada penyintas SARS. Pada COVID-19 laporan awal menyebutkan TGF-β1,TNF-α berperan pada mekanisme fibrosis paru paska COVID-19. Pada studi  dengan subyek pneumoni COVID-19 yang dirawat di ruang isolasi khusus (RIK) dengan pneumoni COVID-19  sedang, berat dan kritis (RT-PCR positip) fibrosis paru paska COVID-19 dijumpai pada 93,3% subyek pada pemeriksaan CT scan toraks setelah dua kali RT-PCR negatip.

Mekanisme fibrosis paru paska COVID-19 belum diketahui secara jelas.Disregulasi respons imun atau badai sitokin telah dilaporkan ada hubungan dengan fibrosis paru. Invasi SARS-CoV2 dapat menginduksi ekspresi growth factor beserta reseptornya, kondisi ini akan merangsang jalur profibrotik.Juga beberapa sitokin, kemokin dan growth factor yang secara bermakna menimbulkan progresivitas fibrosis.   Tumor necrosis factor (TNF) merupakan sitokin pleotropik yang dijumpai dalam 2 bentuk yaitu transmembrane dan soluble. Fungsi TNF akan terlihat bila TNF berikatan dengan reseptornya. TNF di ekspresikan oleh berbagai sel sebagai respons terhadap infeksi. TNF-α merupakan salah satu sitokin yang terlibat pada respons imun COVID-19,kadarnya meningkat saat infeksi dan menurun saat recovery dan kadar TNF-α lebih tinggi pada pasien COVID-19 yang perlu perawatan di ICU dibanding tanpa ICU. Pada pasien COVID-19 kadar serum TNF-α meningkat sesuai keparahan pneumoni COVID-19 dan TNF-α ada hubungan dengan fibrosis paru yang dievaluasi dengan CT scan toraks setelah konversi negatip. Ekspresi TGF-β1 pada COVID-19 bersifat dinamis. Pada COVID-19 sedang dan berat/kritis kadar serum TGF-β1 meningkat secara bermakna sejak onset gejala dan saat konvalesen kadar serum TGF-β1 sama dengan kontrol sehat.  Pada pneumoni COVID-19  kadar serum TGF-β1 60,55 pg/mL dari sampel darah perifer penderita COVID-19 hari ke 19 (rerata) sejak onset gejala dan TGF-β1 ada hubungan dengan fibrosis paru paska COVID-19. TNF-α,TGF-β1 kemungkinan berperan pada fibrosis paru paska pneumoni COVID-19.  

Penulis: Dr. Daniel Maranatha, dr., Sp.P(K)

Rujukan: Association of TNF-α, TGF-β1,IL2,EGFR,Amphiregulin with pulmonary fibrosis in pneumonia COVID-19. Maranatha D,Hasan H,Bakhtiar A,Widyoningroem A,Aryati.J Infect Pub Health 2022:15:1072-1075

bRimPrIg

https://www.jasaarsitekmalang.net/

Tinggalkan Balasan